Schoolarship

Just another Wordpress to schoolarship centre

  • DJWIRYA.com the real RADIO online
    DJWIRYA(dot)COM

  • Add to Technorati Favorites
  • var s_sid = 655888; var st_dominio = 4; var cimg = 306; var cwi =118; var che =60;

    cool hit counter

The GE Foundation Schoolarship 2009

Posted by masogie on March 24, 2009

Sponsored By : THE GE FOUNDATION

Beasiswa GE Foundation Scholar-Leaders Program ditawarkan kepada para mahasiswa S1 di Indonesia, yang diberikan mulai semester tiga sampai dengan semester delapan.

PERSYARATAN:

1. Mahasiswa S1 angkatan 2007/2008 dari ITB, ITS, UGM, UI, UNAIR, UNDIP, UNIBRAW dan UNPAD; di salah satu jurusan berikut: Ekonomi (Akuntansi, Studi Pembangunan, Manajemen), MIPA (Fisika, Kimia, Matematika), Ilmu Komputer, Ilmu Lingkungan, Teknik (Teknik Elektro, Teknik Fisika, Teknik Industri, Teknik Kimia, Teknik Komputer, Teknik Lingkungan, atau Teknik Mesin).
2. IP semester I, II, dan III minimal 3.0 (skala 0-4).
3. Aktif dalam organisasi kemahasiswaan atau kegiatan sosial lainnya.
4. Memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik.
5. Berasal dari keluarga tidak mampu.
6. Tidak sedang menerima beasiswa dari institusi/sponsor lain.

Formulir pendaftaran dapat diambil/difotokopi di bagian Kemahasiswaan, di masing-masing Jurusan atau HIMA, atau diakses dari website IIEF.

Formulir pendaftaran yang telah diisi harus dilengkapi dengan transkrip nilai semester 1 dan 2 (dilegalisir); 2 surat rekomendasi (dari dosen wali dan dosen lainnya); 2 surat keterangan tidak mampu (dari kelurahan dan pihak universitas); surat pernyataan tidak sedang menerima beasiswa lain dan tidak akan menerima beasiswa lain apabila ditetapkan sebagai penerima beasiswa GE Foundation Scholar-Leaders Program; serta salinan sertifikat dan dokumen pendukung lainnya (bila ada).

Seluruh dokumen harus dikirim ke IIEF paling lambat pada:
14 Maret 2009 (cap pos)
dengan alamat

Beasiswa GE Foundation Scholar-Leaders Program – IIEF
Menara Imperium Lt. 28 Suite B
Jl. H. R. Rasuna Said, Jakarta 12980
Tel.No.: 021-8317330, Fax.No.: 021-8317331;
E-mail: scholarship@iief.or.id, Website: http://www.iief.or.id

Posted in Uncategorized | Tagged: | Leave a Comment »

Lowongan Pekerjaan

Posted by masogie on March 16, 2009

Lowongan Kerja Terbaru Maret 2009 PT Daewo Telecom (Exp: 28 Maret 2009)
Ditulis pada 16 Maret 2009 oleh aguspuryanto

PT. Daewo Telecom
Perusahaan ini bergerak dalam bidang Hardware memerlukan kandidat yang berkualitas untuk mengisi posisi sebagai :

CSR ( Customer Service Representatif )
Kualifikasi:
1. Wanita.
2. Min D3 semua jurusan IPK 3,00
2. Penampilan menarik, kreatif dan Inovatif
3. max 25 tahun.
4. Bahasa inggris min pasif.
5. Mengerti Komputer, MS.WORD,EXCEL,Internet

Kirimkan lamaran dan CV lengkap beserta foto 4×6 berwarna ke :

Kirim Via Email ke alamat:
jobsdaewo@yahoo.com

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Fenomena Artis Berpolitik

Posted by masogie on March 16, 2009

Saat ini terjadi sebuah fenomena menarik dalam kehidupan demokrasi di Indonesia. Artis, sebagai bagian dari warga negara, ramai-ramai mencalonkan diri atau dicalonkan oleh partai politik untuk menduduki jabatan publik. Dalam konteks sejarah politik bangsa, masuknya artis dalam kancah politik bukan sesuatu yang baru. Artis telah membanjiri kehidupan politik praktis, terutama sejak masa Orde Baru (1966-1998). Hampir semua partai politik saat itu punya unsur artis dalam aktivitas politiknya.

Tidak saja dalam kapasitasnya sebagai vote getter seperti Rhoma Irama di PPP, Harry de Fretes, Rano Karno untuk PDI atau beberapa artis safari yang berkampanye untuk Golkar, termasuk di antaranya Titiek Puspa, Camelia Malik, tetapi juga dalam kapasitas sebagai anggota badan legislatif seperti Rhoma Irama yang uniknya masuk ke dalam parlemen atas budi baik Golkar.

Fungsinya tidak saja dalam kapasitas penarik massa ataupun anggota Dewan, tetapi bahkan saat ini telah pula memasuki wilayah eksekutif meski baru pada wilayah lokal. Untung saja badan yudikatif, yang memang didisain eksklusif oleh para “penemu” demokrasi di Barat sejak awal, harus diisi oleh kalangan profesional di bidang hukum di mana kapabilitasnya lebih jelas dan terukur.

Seandainya tidak, bukan tidak mungkin kita akan mendapatkan seorang pelawak dalam jajaran hakim konstitusi atau pejabat penting di Mahkamah Agung.

Makhluk Visioner

Tidak ada sebuah syarat baku yang sama diterapkan di seluruh dunia untuk menguji kelayakan dan kepantasan seorang wakil rakyat. Namun setidaknya dari semangat demokrasi, baik dalam makna normatif, prosedural ataupun substansial, diisyaratkan tiga karakteristik yang harus dipenuhi seorang wakil rakyat, yakni memiliki kejelasan visi (vision), daya dukung publik yang memadai (acceptibility), dan rasa tanggung jawab (responsibility).

Ketiganya jelas syarat minimal untuk membentuk sebuah demokrasi yang rasional, kontekstual, dan bermoral. Dalam praktiknya, ketiga syarat itu tidak disematkan pada sekelompok orang tertentu. Bahkan dalam logika demokrasi, yang mengakui persamaan, semua orang dianggap mungkin untuk memiliki ketiganya.

Atas dasar pemahaman inilah secara substansial seorang artis sebagai seorang warga negara patut diperlakukan sama dengan kalangan lain yang memiliki profesi bukan artis. Persoalannya adalah apakah artis yang saat ini berputar haluan menjadi wakil rakyat memiliki kemampuan untuk memenuhi ketiga syarat itu? Tentu saja kita tidak bisa menghakimi seseorang dari kulit luarnya sebagaimana pepatah don’t judge the book form the title.

Mungkin saja seorang artis itu memang benar-benar bisa memenuhi ketiganya. Sementara belum tentu juga mereka yang bukan dari kalangan artis benar-benar bisa memenuhi ketiganya. Terbukti mereka yang tertangkap melakukan korupsi dan dicap sebagai “politisi busuk” berasal dari beragam latar belakang profesi. Namun, tidak salah juga jika ada kalangan yang mengkhawatirkan masuknya artis dalam dunia perpolitikan kita.

Alasannya sederhana, dengan maraknya infotainment, sebenarnya gerak langkah artis sudah terpantau habis-habisan oleh publik. Dari informasi yang didapatkan itu, memang jarang sekali artis-artis tertangkap sedang melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pengasahan kapabilitas sebagai seorang wakil rakyat.

Tidak ditemui sebelumnya misalnya artis seperti Wulan Guritno, Eko Patrio, atau Dicky Chandra sedang mengasah visi diri untuk menawarkan solusi konkret jangka pendek bagi rakyat, apalagi untuk menjawab sebuah pertanyaan serius “mau dibawa ke mana Indonesia lima puluh tahun kedepan?” Ada yang mengatakan segalanya akan dapat diatasi dengan learning by doing. Toh kebanyakan pejabat publik juga belum berpengalaman ketika menjabat.

Pandangan ini sekilas memang benar. Namun sejatinya salah. Sebab dalam konteks perpindahan profesi, yang melibatkan kemampuan, perasaan, dan pengorbanan yang demikian besar (great leap), dan pekerjaan itu secara esensial menyangkut hidup orang banyak, istilah learning by doing adalah sebuah keabsurdan.

Kalau Anda ingin menjadi ahli membuat kue, mungkin bisa ditempuh dalam beberapa hari, itu pun dengan risiko kegagalan paling hanya kue menjadi bantat atau gosong. Namun, kalau Anda ingin mendapatkan kemampuan mengurus jutaan orang dengan risiko makin meluasnya pengangguran dan hancurnya kesejahteraan atau bahkan runtuhnya sebuah bangsa, tentu Anda memerlukan waktu yang lebih lama untuk menjadi kampiun di bidang itu.

Masalahnya sederhana saja, apakah kita mau menyerahkan nasib kita kepada orang yang masih harus belajar banyak? Apakah kita mau disopiri oleh orang yang masih belum layak turun ke jalan?

Sumber: http://news.okezone.com

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

AGAMA DAN NEGARA DALAM ISLAM

Posted by masogie on March 13, 2009

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –> Salah satu hal mengenai Islam yang tidak mungkin diingkari ialah pertumbuhan dan perkembangan agama itu bersama dengan pertumbuhan dan perkembangan sistem politik yang diilhaminya. Sejak Rasulullah s.a.w. melakukan hijrah dari Mekkah ke Yatsrib -yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah- hingga saat sekarang ini dalam wujud sekurang-kurangnya Kerajaan Saudi Arabia dan Republik Islam Iran, Islam menampilkan dirinya sangat terkait dengan masalah kenegaraan.

Sesungguhnya, secara umum, keterkaitan antara agama dan negara, di masa lalu dan pada zaman sekarang, bukanlah hal yang baru, apalagi hanya khas Islam. Pembicara-an hubungan antara agama dan negara dalam Islam selalu terjadi dalam suasana yang stigmatis. Ini disebabkan, pertama, hubungan agama dan negara dalam Islam adalah yang paling mengesankan sepanjang sejarah umat manusia. Kedua, sepanjang sejarah, hubungan antara kaum Muslim dan non-Muslim Barat (Kristen Eropa) adalah hubungan penuh ketegangan. Dimulai dengan ekspansi militer-politik Islam klasik yang sebagian besar atas kerugian Kristen (hampir seluruh Timur Tengah adalah dahulunya kawasan Kristen, malah pusatnya) dengan kulminasinya berupa pembe-basan Konstantinopel (ibukota Eropa dan dunia Kristen saat itu), kemudian Perang Salib yang kalah-menang silih berganti namun akhirnya dimenang-kan oleh Islam, lalu berkembang dalam tatanan dunia yang dikuasai oleh Barat imperialis-kolonialis dengan Dunia Islam sebagai yang paling dirugikan. Disebabkan oleh hubungan antara Dunia Islam dan Barat yang traumatik tersebut, lebih-lebih lagi karena dalam fasenya yang terakhir Dunia Islam dalam posisi “kalah,” maka pem-bicaraan tentang Islam berkenaan dengan pandangannya tentang negara berlangsung dalam kepahitan menghadapi Barat sebagai “musuh.”

Pengalaman Islam pada zaman modern, yang begitu ironik tentang hubungan antara agama dan negara dilambangkan oleh sikap yang saling menuduh dan menilai pihak lainnya sebagai “kafir” atau “musyrik” seperti yang terlihat pada kedua pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia dan Republik Islam Iran. Saudi Arabia, sebagai pelanjut faham Sunni madzhab Hanbali aliran Wahabi, banyak menggunakan retorika yang keras menghadapi Iran sebagai pelanjut paham Syi’i yang sepanjang sejarah merupakan lawan kontroversi dan polemik mereka.

Iran sendiri, melihat Saudi Arabia sebagai musyrik karena tunduk kepada kekuatan-kekuatan Barat yang non-Islam. Semua itu memberi gambaran betapa problematisnya perkara sumber legitimasi dari sebuah negara yang mengaku atau menyebut dirinya “negara Islam.” Sikap saling membatalkan legitimasi masing-masing antara Saudi Arabia dan Iran mengandung arti bahwa tidak mungkin kedua-duanya benar. Yang mungkin terjadi ialah salah satu dari keduanya salah dan satunya lagi benar, atau kedua-duanya salah, sedangkan yang benar ialah sesuatu yang ketiga. Atau mungkin juga masing-masing dari keduanya itu sama-sama mengandung unsur kebenaran dan kesalahan

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Hello world!

Posted by masogie on March 13, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.